Nyalakan Asa Anak-Anak Perempuan Keluarga Duafa

- Rabu, 30 November 2022 | 17:26 WIB
 Lindhawati (SM Banyumas/dok)
Lindhawati (SM Banyumas/dok)

SUATU sore, empat anak gadis usia belasan datang ke rumah Lindhawati (42) di salah satu dusun pinggiran Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Mereka yang masih duduk di bangku kelas 9 SMP bercerita, kalau mereka ingin melanjutkan sekolah. Tapi orang tuanya menghendaki mereka untuk tidak lagi sekolah karena alasan biaya.

Bergetar hati Lindha mendengar keinginan anak-anak itu. Sebab selama ini, Lindha sering membuat kegiatan untuk anak-anak remaja di rumahnya, namun tanggapannya biasa-biasa saja. Tapi, kali ini, dia didatangi oleh anak yang ingin menjadi baik di masa depan. Setelah "nembung" dan mendapat restu dari suaminya, Lindha pun memutuskan untuk membiayai sekolah keempat anak tetangganya itu.

Tapi ada syaratnya, mereka harus mau tinggal bersamanya. Mengikuti pola asuh yang diterapkan oleh Linda. Kebetulan, dia dan suaminya jarang bertemu mengingat pekerjaan. Saat itu Lindha bekerja sebagai ASN di UPT Metrologi Legal Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Kabupaten Purbalingga sedangkan suaminya, Badrul Munir berdinas sebagai ASN di Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BPP2TP) Surabaya Kementerian Pertanian.

Baca Juga: Empat Pekan, Peringkat Pemanfaatan PMM Dindik Banyumas Menembus Empat Besar

"Jadi pertama kali mengasuh anak tetangga dan menyekolahkannya pada 17 Juli 2013. Empat anak, dua di SMA Muhammadiyah 1 Purbalingga dan dua SMKN 1 Bukateja. Angkatan pertama, sekarang dua orang sudah lulus kuliah," kata Lindhawati memulai kisahnya, Senin, 28 November 2022.

Masih ingat betul dalam ingatannya, waktu itu dia dan suami baru membiayai anaknya masuk TK dan mengambil KPR serta harus memasukkan empat anak asuhnya ke SMA. Khusus untuk anak asuh, waktu itu butuh Rp 10 juta agar bisa masuk ke sekolah. Ada khawatir tidak mampu membayarnya. Namun rasa khawatir itu hilang setelah suami mengatakan kalah, setiap anak ada rezekinya masing-masing. Tangah Allah bergerak, donasi pun masuk.

Di rumahnya, keempat anak itu tinggal bersama pengasuh untuk penguatan pembinaan karakter dan keagamaan. Mereka diberikan pendidikan agama seperti hafalan Alquran tahsin atau tahfidz, akidah, akhlak, life skill, entrepreneurship dan pelayanan masyarakat.

Baca Juga: Harga Tas, Sepatu dan Jam Tangan Amanda Manopo Saat Jadi Bridesmaid Bikin Melongo

Kegiatan anak-anak setiap hari bangun sekitar pukul 03.30 WIB lalu salat malam, salat subuh, hafalan Alquran, pagi sekolah sampai sore. Pulang sekolah ada piket mengajar TPQ dan masak, malam makan dan mengikuti taklim. Untuk taklim, ada materi dari pengasuh dan ada dari mereka. Ada pula tadabur yakni mencari ayat inspiratif dan solusi dari Alquran. Mereka juga harus tampil di hadapan anak-anak lain seminggu sekali.

"Anak-anak saya wajibkan ikut yasinan di rumah warga seminggu sekali. Dijadwal. Biasanya anak-anak bawa kue untuk konsumsi warga. Kan anak-anak di asrama diajari pelatihan membuat kue oleh rekan-rekan GOW (Gabungan Organisasi Wanita) Purbalingga," katanya ibu dari Hanifa Inayatullah (16), Haniyya Inayatullah (14) dan Hafiyya Inayatullah (11) ini.

Halaman:

Editor: Susanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

30 SD di Banyumas Belum Terapkan Kurikulum Merdeka

Jumat, 27 Januari 2023 | 12:17 WIB

FTIK UIN Saizu Gelar Rakor dengan Kepala Lembaga

Rabu, 25 Januari 2023 | 08:32 WIB

Hebat, Mahasiswa UIN Saizu Jadi Duta GenRe Purbalingga

Selasa, 17 Januari 2023 | 14:49 WIB

UIN Saizu Kirim Relawan Gempa Bumi Cianjur

Rabu, 11 Januari 2023 | 09:57 WIB
X