Mengenang Peristiwa 30 September, Ini Cerita Ahmad Tohari dalam Tragedi 65

- Jumat, 30 September 2022 | 08:08 WIB
Ahmad Tohari (SM Banyumas/Susanto)
Ahmad Tohari (SM Banyumas/Susanto)

BANYUMAS, suaramerdeka-banyumas.com- Di tengah kunjungan ke kediaman sastrawan Ahmad Tohari di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas beberapa waktu lalu, Suara Merdeka Banyumas mendapatkan kembali potongan-potongan cerita tentang tragedi 65 yang kemudian diadaptasi menjadi novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Menggunakan bahasa Jawa Banyumasan dengan lancar, budayawan dan sastrawan yang telah memasuki usia senja itu masih menggebu menceritakan kejadian 65 yang terjadi di desanya.

Waktu itu ia masih berumur 17 tahun usia SMA. Saat itu ia sedang pulang ke rumahnya usai sekolah di Purwokerto.

Baca Juga: Tersangkut Penghalangan Kasus Brigadir J, Berikut Ini Nama-nama 24 Anggota Polri Dimutasi ke Yanma Polri

"Saya ingin menulis apa yang saya lihat," begitu katanya kemudian jadilah dalam beberapa waktu ia akhirnya memutuskan tragedi 65 dalam bentuk novel.

Ia melihat sendiri prosesi pembunuhan warga yang dituduh PKI. Seorang pemuda yang dituduh menjadi simpatisan PKI itu diiring oleh warga dan diterangi dengan lampu patromak.

Prosesi ini dilaksanakan oleh personel tentara di hadapan banyak orang dan terbuka dilihat oleh warga.

Baca Juga: Kodim Banjarnegara Gelar Sunatan Massal di RSI Banjarnegara

"Yang ditembak pertama kali itu sikut kanan, sikut kiri. Ganti kuping kanan, ganti kuping kiri. Dan ketika menembak kuping kiri itu dia (korban) muter baru kemudian jatuh. Setelah itu diangkat lagi," tuturnya.

Halaman:

Editor: Susanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sekda Banjarnegara Lepas Kafilah Porsadin

Rabu, 2 November 2022 | 12:18 WIB
X