Penggunaan Bahasa Asing Untuk Toponimi Geser Bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia

- Selasa, 20 September 2022 | 21:14 WIB
SEMPROT DISINFEKTAN: Relawan penangangan Covid-19 Desa Dermaji, Kecamatan Lumbir saat menyemprotkan disinfektan di ruang lokasi Museum Naladipa desa setempat beberapa waktu lalu. (SM/dok)
SEMPROT DISINFEKTAN: Relawan penangangan Covid-19 Desa Dermaji, Kecamatan Lumbir saat menyemprotkan disinfektan di ruang lokasi Museum Naladipa desa setempat beberapa waktu lalu. (SM/dok)

 

BANYUMAS, suaramerdeka-banyumas.com- Penggunaan bahasa asing untuk penamaan atau penyebutan tempat selama ini semakin menggeser keberadaan Bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Hal itu diungkapkan Prof Dr Cece Sobarna, guru besar linguistik Universitas Padjadjaran, Bandung saat presentasi tentang hasil riset Toponimi (Nama Tempat) Berbahasa Sunda di Balai Desa Dermaji, Kecamatan Lumbir beberapa waktu lalu.

Gejala penggunaan bahasa asing untuk nama tempat itu, kata Prof Cece, sudah jamak terlihat di wilayah perkotaan.

Penggunaan kata ‘park, square‘ sebagai pengganti kosakata taman. Padahal jika hal itu terus berlangsung, maka bisa melunturkan identitas dan jati diri bangsa.

Baca Juga: BPD dan RT-RW Desa Cilongok Ramai-ramai Nyatakan Mundur

“Saat ini telah marak penggunaan bahasa asing di tempat umum. Saya khawatir nama tempat yang menjadi kekayaan budaya lokal kita terpengaruh budaya asing.

Saya khawatir masyarakat dengan mudah mengganti nama tempat lokal dengan bahasa asing,” katanya.

Tak heran jika, punahnya bahasa ini bisa menjadi bencana kemanusiaan. Namun kebanyakan masyarakat dan berbagai pihak tak menyadari hal tersebut.

Halaman:

Editor: Susanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Nyalakan Asa Anak-Anak Perempuan Keluarga Duafa

Rabu, 30 November 2022 | 17:26 WIB
X