Sastra Pencerahan Bawa Dosen UIN Saizu Raih Penghargaan Tingkat Asia Tenggara

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 15:10 WIB
Abdul Wachid BS (SM Banyumas/dok)
Abdul Wachid BS (SM Banyumas/dok)
PURBALINGGA, suaramerdeka-banyumas.com-Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Saifudin Zuhri (Saizu), Abdul Wachid BS mendapatkan penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) ke-9.
 
Kabar menggembirakan itu ia peroleh melalui surat dari Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia pada Kamis, 7 Oktober 2021 lalu.
 
Dalam surat itu, menyebutkan, Panel Pusat Hadiah Sastera Mastera ke-9 telah memilih karya Abdul Wachid BS yang bertajuk Sastra Pencerahan sebagai penerima Hadiah Sastera Mastera ke-9 bagi Kategori Karya Sastera Bukan Kreatif dari Indonesia.
 
"Alhamdulillaah. Saya bersyukur bahwa salah satu buku esai dan kritik sastra yang saya tulis, yaitu Sastra Pencerahan, dipilih oleh Panitia Majelis Sastrawan Asia Tenggara untuk mendapatkan Penghargaan Mastera ke-9," kata Achid, Kamis (14/10/2021) kepada suaramerdeka.banyumas.com.
 
Achid lahir di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur, 7 Oktober 1966. Saat ini aktif menjadi dosen di UIN Saizu Purwokerto dan sejumlah universitas sebagai dosen tamu.
 
Sangat produktif menulis karya sastra baik puisi, cerpen, esai maupun kritik sastra setidaknya dia telah menerbitkan 14 buku yang berisi karya-karyanya.
 
 
Achid memiliki peran yang cukup sentral dalam mencetak penulis terutama penyair dan cerpenis di Banyumas Raya.
 
Dari tangan dinginnya, penulis-penulis muda bermuculan yang berasal dari kampus sejak masih bernama STAIN Purwokerto hingga berubah menjadi UIN Saizu.
 
Terkait penghargaan Mastera yang diraihnya, Achid mengatakan, masih banyak sekali hal yang harus ditulis dari Sastra Nusantara dan Sastra Indonesia sebagai bagian penting dari ekspresi budaya sebagai bangsa besar.
 
 
"Di tengah bertumbuhan karya sastra Indonesia yang bagus-bagus ini, karakteristik berbagai budaya bangsa kita harus hadir di dalamnya, demikian kuatnya, mewarnai hidup manusia Indonesia, baik dalam keberagamaan, maupun keberagaman bersosial," terangnya.
 
Hal inilah yang penting untuk diapresiasi, disentuh oleh kritik sastra, sehingga ada keseimbangan sebagai ekologi sastra dan budaya yang sehat.
 
Hal tersebut perlu pendekatan yang bukan hanya menggunakan analisis teori Sastra Barat, melainkan berdasarkan kepada estetika, etika, metafisika, dan sejarah kebudayaan Timur, khususnya Nusantara itu sendiri, termasuk Melayu raya. 
 
 
Namun, sebagai karya-karya sastra besar dari bangsa besar di berbagai ranah Nusantara, dari karya klasiknya, maupun karya sastra modernnya, sudah waktunya kita kaji dengan melahirkan estetika, etika, metafisika, dan sejarah kebudayaan yang menghidupinya sebagai karakter yang khas Nusantara, yang khas Indonesia. 
 
Demikian pula untuk karya sastra kawasan Asia Tenggara, yang dipertautkan oleh keadiluhungan budaya Melayu dengan berbagai ragamnya. 
 
Pertautan antarbudaya dan agama-agama melahirkan sikap yang toleransi dan moderasi berabad-abad. Hal inilah yang akan terus menyala, menerangi sikap kreatif antarbangsa di kawasan Asia Tenggara. ***

Editor: Susanto

Tags

Terkini

811 SD di Banyumas Telah Menerapkan PTM

Rabu, 24 November 2021 | 21:44 WIB

ANBK SD/MI Dibagi Empat Gelombang, Ini Jadwal Asesmennya

Selasa, 16 November 2021 | 20:48 WIB
X