Mengedepankan Agenda Membangun Kerukunan Menjelang Kontestasi Politik 2024

- Sabtu, 27 Agustus 2022 | 14:45 WIB
Yusup Nurohman, peneliti kajian Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (SMBanyumas/istimewa)
Yusup Nurohman, peneliti kajian Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (SMBanyumas/istimewa)

suaramerdeka-banyumas.com - Persoalan kerukunan bukan lagi menjadi sekadar agenda dan program rutin bangsa, melainkan telah menjadi kebutuhan mutlak terhadap kelangsungan negara Indonesia.

Sebagai negara multikultural dan multi-agama, segmen terciptanya kerukunan dan kedamaian antar masyarakat adalah harapan dan cita-cita negara. Meskipun demikian, kita tidak bisa membuang fakta bahwa hingga kini peristiwa seperti kerusuhan, radikalisme, hingga perselisihan antar golongan dan umat beragama masih menjadi concern utama masyarakat Indonesia.

Salah satu agenda krusial bangsa di tahun mendatang yaitu pesta demokrasi Pemilu yang akan berlangsung pada tahun 2024. Muncul harapan, kontestasi politik dan euforia pergantian presiden akan lebih baik dari tahun sebelumnya.

Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, kita menyaksikan bagaimana para pendukung kandidat membentuk dengan jelas sekat-sekat pembatas ruang beretika dan bersosial di masyarakat.

Baca Juga: Cucu Kelima Presiden Jokowi, Anak Ketiga dari Khahiyang Ayu-Bobby Nasution Lahir

Pemilu semakin kehilangan marwahnya, hal ini dikarenakan pemilu bukan lagi menjadi ajang pesta demokrasi bagi rakyat, tapi menjadi arena pertaruhan adu kekuatan tokoh-tokoh politik di Indonesia. Ditambah lagi dengan adanya isu-isu menjelang pemilu yang sering sekali dibentur-benturkan oleh isu-isu pengalihan. Entah nanti yang tiba-tiba diberitakan isu globalisasi, isu sentimen-agama, ras, etnis, gender dan sebagainya.

Perubahan sosial yang tiba-tiba muncul lainya adalah permasalahan etika dan sikap sosial masyarakat. Kita sering melihat seseorang yang dahulunya hidup rukun, tiba-tiba saling membenci karena perbedaan dukungan kandidat. Tidak hanya terjadi kepada masyarakat yang berbeda dalam ikatan keluarga, antar anggota keluarga hingga saudara dekat juga bisa terjadi perselisihan.

Penting sekali untuk dikaji lebih dalam, tentu hal ini menjadi tidak elegan untuk dikonsumsi publik. Seharusnya kontestasi politik yang dibangun adalah kontestasi yang sehat dan bersifat membangun. Seperti misalnya kontestasi dalam bentuk visi misi yang baik, program-program unggulan, dan kegiatan produktif bersama masyarakat.

Baca Juga: Kejuaraan Dunia 2022 : Ganda Putra Indonesia Pastikan Raih Tiket Final

Halaman:

Editor: Nugroho Pandhu Sukmono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tragedi 27 Juli: Serpih Ingatan Melawan Lupa

Jumat, 29 Juli 2022 | 13:11 WIB

Jalan Berliku 24 Tahun Reformasi

Sabtu, 21 Mei 2022 | 12:13 WIB

Komunikasi Keluarga Terhadap Pendidikan Anak

Jumat, 20 Mei 2022 | 17:27 WIB

Masalah Bersama itu Bernama Lost Learning

Minggu, 23 Januari 2022 | 15:22 WIB

Kafala dan Kekerasan Struktural Bagi Pekerja Migran

Sabtu, 18 Desember 2021 | 12:52 WIB

Tentang 'Botoh' di Seputaran Arena Pilkades Serentak

Selasa, 14 Desember 2021 | 15:50 WIB

Politik Diametral

Rabu, 3 November 2021 | 14:22 WIB
X