Ini Fatwa MUI Untuk Hewan Kurban yang Terpapar Wabah PMK Untuk Pelaksanaan Ibadah Kurban

- Kamis, 2 Juni 2022 | 06:50 WIB
PEMERIKSAAN: Ternak sapi di Pasar Hewan yang demam dan terindikasi terkena PMK diperiksa petugas. (SM Banyumas/dok)
PEMERIKSAAN: Ternak sapi di Pasar Hewan yang demam dan terindikasi terkena PMK diperiksa petugas. (SM Banyumas/dok)

JAKARTA, suaramerdeka-banyumas.com-Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menerbitkan fatwa tentang hukum hewan kurban saat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada Selasa 31 Mei 2022. 

Dalam fatwa yang disampaikan Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Niam terdapat tiga hukum yaitu sah, tidak sah dan sedekah atau tidak memenuhi syarat hewan kurban.

Berikut ini penjelasannya Fatwa MUI Nomor 32 Tahun 2022 tentang Hukum dan Panduan Pelaksanaan Ibadah Kurban Saat Kondisi Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Baca Juga: Spoiler One Piece Chapter 1051: Yamato Jadi Anggota Bajak Laut Topi Jerami

Sah

Hewan yang terkena PMK dengan gejala klinis kategori ringan, seperti lepuh ringan pada celah kuku, kondisi lesu, tidak nafsu makan, dan keluar air liur lebih dari biasanya hukumnya sah dijadikan hewan kurban.

Tidak Sah

Hewan yang terkena PMK gejala klinis kategori berat seperti lepuh pada kuku sampai terlepas, pincang, tidak bisa berjalan, dan menyebabkan sangat kurus, maka hukumnya tidak sah dijadikan hewan kurban.

Baca Juga: Catatan dari Sendratari Ksatria Singadipa: Kesenian Banyumas Bisa Dibawa ke Dunia Internasional

Sedekah

Hewan yang terjangkit PMK dengan gejala klinis kategori berat tapi sembuh dari PMK setelah lewat rentang waktu yang dibolehkan berkurban (tanggal 10 sampai dengan 13 Dzulhijjah), maka sembelihan hewan tersebut dianggap sedekah.

Hewan ini tidak bisa dijadikan hewan kurban dan masuk dalam sedekah.***

Halaman:

Editor: Susanto

Sumber: MUI

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X