Mengapa Pelaku LGBT dan Promotornya Tidak Ditindak Hukum, Ini Penjelasan Menko Polhukam Mahfud MD

- Kamis, 12 Mei 2022 | 08:48 WIB
Menko Polhukam RI Mahfudz MD saat konferensi penyitaan aset PT Timor Putra Nasional milik Tomi Soeharto yang menjadi aset jaminan BLBI.(SM Banyumas/tangkapan layar YouTube Kemenko Polhukam)
Menko Polhukam RI Mahfudz MD saat konferensi penyitaan aset PT Timor Putra Nasional milik Tomi Soeharto yang menjadi aset jaminan BLBI.(SM Banyumas/tangkapan layar YouTube Kemenko Polhukam)

Nilai-nilai Pancasila itu belum semua menjadi norma hukum. Nah, masalah LGBT dan penyiarannya itu tidak/belum dilarang oleh hukum. Itu baru diatur dalam norma non hukum karena kita negara yang Berketuhanan yang Maha Esa. Jadi kasus Deddy Corbuzier dan LBGT itu sejauh ini belum ada kasus pelanggaran hukumnya.

Berdasar asas legalitas, orang hanya bisa diberi sanksi heteronom (yang ditegakkan oleh aparat penegak hukum) jika melakukan pelanggaran yang oleh UU sudah ditetapkan sebagai larangan hukum. Apa yang begitu itu tak ada sanksinya? Ada. Tapi sanksinya adalah sanksi otonom yg berupa derita batin, misalnya, karena dibully publik, dikucilkan, ditinggalkan penggemar, takut, malu, merasa berdosa, dan sebagainya. Itu semua adalah sanksi moral dan sosial. Harus disadari, ajaran-ajaran agama banyak yang tidak atau belum dijadikan hukum positif.

Baca Juga: Ramai Deddy Corbuzier, LGBT, Ragil, Mahfud MD Pernah Usul Pasal LGBT dan Zina Masuk KUHP

Contoh lainnya adalah adanya sila terpenting dari Pancasila yakni "Ketuhanan Yang Maha Esa". Sila ini menegaskan bahwa manusia Indonesia beriman kepada Tuhan. Tapi sampai sekarang, tak satu pun orang dihukum karena, misalnya, mengaku ateis sebab sampai kini masalah ateisme tidak/belum diatur dengan hukum.

Beda dgn penyebaran ajaran Komunisme, Marxisme, dan Leninisme. Kalau yang ini, sudah ada larangannya di Tap MPRS No. XXV/MPRS/1966, Pasal- pasal Gangguan bagi Keamanan Negara dalam KUHP Jo. UU No. 26 Tahun 1999, dan UU No. 27 Tahun 1999.
Contoh lainnya lagi ya masalah LGBT dan Zina menurut agama. LGBT tak bisa dihukum karena belum ada hukum positif yang mengatur larangan dan ancaman hukumannya. Hubungan seks antara orang yang tidak dalam ikatan perkawinan dalam konteks hukum positif, belum tentu zina sebab konsep zina menurut agama berbeda dengan konsep zina menurut KUHP. Nah, kalau ingin ada hukuman untuk ini, silahkan perjuangkan ke DPR sebagaimana yang pernah saya sampaikan pada tahun 2017 saat terjadi pro kontra soal LGBT ini, agar Rancangan KUHP kita yang sekarang sedang menunggu pengundangan bisa mengakomodasi hal-hal tersebut. Sekarang sedang dibahas di Legislatif.

Baca Juga: Ramai Deddy Corbuzier, LGBT, Ragil, Mahfud MD Pernah Usul Pasal LGBT dan Zina Masuk KUHP


Sebagai bagian dari proses ini, Pemerintah sudah mengajukan konsep, tetapi DPR dan civil society organization (CSO) juga belum bersepakat. Jangan pula menuding Pemerintah untuk mengetokkan palu tentang itu. Palunya ada di gedung DPR.***

Halaman:

Editor: Susanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Piala Dunia 2022, Belgia Tumbang oleh Maroko 2-0

Senin, 28 November 2022 | 16:57 WIB

Warganet Bertanya-tanya, Kemana Si Oyen?

Jumat, 25 November 2022 | 09:43 WIB

Piala Dunia 2022: Maroko vs Kroasia Imbang 0-0

Kamis, 24 November 2022 | 06:18 WIB
X