Warga Cukur Gundul Gegara Bupati Banjarnegara Ditahan KPK, Pengamat: Itu Wajar

- Senin, 6 September 2021 | 22:10 WIB
Pengamat politik Fisip Unsoed, Ahmad Sabiq (SMBanyumas/dokumentasi pribadi)
Pengamat politik Fisip Unsoed, Ahmad Sabiq (SMBanyumas/dokumentasi pribadi)


PURWOKERTO, suaramerdeka-banyumas.com - Pengamat politik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Ahmad Sabiq menilai wajar munculnya aksi cukur gundul yang dilakukan sejumlah warga.

Menurut Sabiq, aksi cukur gundul dan menggelar tasyakuran usai penetapan status tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), itu tidak hanya terjadi di Banjarnegara saja.

Tindakan serupa juga terjadi di daerah yang bupati/walikotanya ditangkap KPK seperti Probolinggo dan Kota Tegal belum lama ini.

Menurut pria kelahiran Magelang ini, aksi tasyakuran tersebut belum tentu dilakukan oleh lawan politik Kepala Daerah yang kalah dalam waktu Pilkada.

Bisa jadi, itu dilakukan oleh kelompok masyarakat yang merasa kecewa dengan kebijakan yang diterapkan.

Baca Juga: KPK Tahan Bupati Banjarnegara, Dua Orang Ini Cukur Gundul

"Artinya sudah ada kekecewaan yang menyebar di masyarakat. Masyarakat itu kecewa karena pimpinan daerahnya hanya memperhatikan kroninya saja lewat proyek itu dan menggunakan anggaran publik untuk kepentingan kelompoknya saja. Ketika yang bersangkutan akhirnya jadi tersangka itu hal yang wajar," kata dia, Minggu, 5 September 2021.

Menurutnya, banyaknya kepala daerah yang ditangkap KPK membuktikan bahwa masih ada celah korupsi yang terbuka.

Sabiq mengemukakan, para kepala daerah ini juga tidak pernah belajar dari peristiwa yang sudah terjadi. Mereka tetap mencuri uang untuk kepentingan pribadi.

"Seringkali, para kepala daerah itu berupaya mengembalikan investasi yang sudah dikeluarkan saat pemenangan (pemilihan kepala daerah). Padahal itu seharusnya tidak perlu dilakukan," katanya.

Halaman:

Editor: Nugroho Pandhu Sukmono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X