Tak Ada Lagi Cerita Banjir Sepaha, Copet dan Maling Timbangan

- Rabu, 23 November 2022 | 19:54 WIB
LEGA DAN NYAMAN: Suasana Pasar Tradisional Panican di Kecamatan Kemangkon yang bersih, lega dan nyaman untuk pedagang dan pembeli pada Rabu (23/11). Pasar ini direvitalisasi dengan anggaran Bangub Jateng pada 2021 silam sebesar Rp 6,7 miliar.(SM Banyumas/Ryan Rachman)
LEGA DAN NYAMAN: Suasana Pasar Tradisional Panican di Kecamatan Kemangkon yang bersih, lega dan nyaman untuk pedagang dan pembeli pada Rabu (23/11). Pasar ini direvitalisasi dengan anggaran Bangub Jateng pada 2021 silam sebesar Rp 6,7 miliar.(SM Banyumas/Ryan Rachman)

 


MASIH teringat di benak Rojiah (55), penjual pakaian asal Desa/Kecamatan Bukateja, saat dia tengah membuka di salah satu sudut Pasar Panican, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga lima tahun silam. Saat musim hujan seperti ini, dia harus lebih dini mengemas barang dagangannya. Sebab, kalau telat mengemas dan memasukkannya ke tas besar, maka pastilah basah semua pakaian yang ia jual.

"Dulu, kalau sudah mendung, ya kudu cepet-cepet 'kukud'. Kalau dari pagi hujan, ya mending tidak usah berangkat ke pasar. Tidak usah jualan," kata perempuan yang sudah 20 tahun berjualan di Pasar Panican, Rabu, 16 November 2022.

Awalnya kalau mau jualan, dia membuka lapak dengan menggelar plastik atau karpet untuk menata dagangannya. Bila hendak pulang, dia mengemas lagi dagangannya dan dibawa pulang. Hingga akhirnya dia membuat kios sendiri dengan kayu. Dagangannya dia simpan di dalam kios.

Baca Juga: Pj Bupati Cilacap Minta Klaster Penanganan Bencana Dimantapkan

Kendati demikian, dia masih was-was karena waktu itu pasar belum ada pagar keliling, khawatir dagangannya hilang dicuri. Sebab, sudah beberapa kali kejadian dagangan milik rekan pedagang hilang.

"Alhamdulillah, dibuatkan oleh Gubernur. Sekarang pasarnya bersih, keamanan terjamin, payune tambah karena tempatnya mudah dicari. Kalau dulu sehari paling dapat Rp 200 ribu sekarang bisa sampai Rp 500 ribu. Dulu kalau hujan tidak bisa jualan, sekarang tidak tahu kalau di luar hujan," katanya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Aminah (67), warga Desa/Kecamatan Kemangkon ini. Penjual bumbu dapur ini sudah berjualan sejak tahun 1985. Dulu dia harus kulakan sendiri di pasar yang lebih besar agar bisa jualan di Pasar Panican. Dia 'lemprakan' jualan di pasar. Kalau tidak habis, barang dagangannya pun harus dia bawa pulang dengan membayar lebih ke tukang becak.

"Sekarang pasarnya sudah nyaman. Saya juga tidak perlu lagi cari dagangan, sudah ada yang nganter dari. Kalau sore, dagangan tidak lagi dibawa pulang, cukup ditutup plastik. Aman, tidak khawatir ada maling masuk. Sekarang jauh lebih mudah," katanya.

Halaman:

Editor: Susanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menyemai Asa, Mewujudkan Cita-cita

Sabtu, 8 Oktober 2022 | 23:19 WIB

Kepala Kantor Kemenag Grobogan Ditemukan Gantung Diri

Selasa, 27 September 2022 | 11:47 WIB
X