Menabur Asa Menuju Petani Gula Sejahtera

- Senin, 18 Juli 2022 | 23:46 WIB
SORTIR GULA SEMUT ORGANIK: DUA Karyawan bidang produksi Koperasi Semedo Manise Sejahtera Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas saat melakukan penyortiran produk gula semut setelah pengayakan di ruang produksi gula semut oganik Rabu 29 Juni 2022 (SM Banyumas/Susanto)
SORTIR GULA SEMUT ORGANIK: DUA Karyawan bidang produksi Koperasi Semedo Manise Sejahtera Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas saat melakukan penyortiran produk gula semut setelah pengayakan di ruang produksi gula semut oganik Rabu 29 Juni 2022 (SM Banyumas/Susanto)

SEJUMLAH perempuan berseragam lengkap dengan kaus tangan plastik terlihat sibuk menyortir gula semut atau gula kelapa serbuk yang di setor dari petani gula. Penyortiran dan pengayakan sangat penting supaya gula semut tidak tercampur dengan kotoran maupun logam berat dari wajan.

Apalagi, kualitas produk yang dihasilkan oleh Koperasi Semedo Manise Sejahtera, Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Jawa Tengah sebagian besar untuk di ekspor ke mancanegara.

Kapasitas gula semut yang di ekspor sekitar 50 ton ke berbagai negara, seperti Eropa dan Timur Tengah. Koperasi ini memiliki anggota sebanyak 1200 orang yang berasal dari Desa Cibangkong, Petahunan, Karangkemiri, Semedo di Kecamatan Pekuncen dan Desa Kalisalak, Kecamatan Kedungbanteng.

Pencapaian Koperasi Manise Sejahtera sampai saat ini tidak semanis gula kelapa, namun melalui jalan berliku. Sebelumnya, koperasi ini merupakan Kelompok Tani Manggar Jaya yang diinisiasi oleh Akhmad Sobirin pada Juni 2012.

Untuk membentuk kelompok ini tidak mudah, meskipun kondisi petani saat itu terpuruk. Petani tidak memiliki posisi tawar harga dari hasil produksi. Malah, sebagian besar mereka terjebak oleh tengkulak.

Baca Juga: Terkenal Daerah Pemasok Gula Tingkat Nasional, Jumlah Penderes dI Banyumas Terus Menurun

Gula kelapa petani selalu dihargai rendah oleh tengkulak karena menggunakan sistem ijon. Keterbatasan akses pemasaran, informasi pasar membuat mereka terjebak pada lingkaran tengkulak.

Gula kelapa cetak milik petani pada waktu itu atau sekitar 2011 dihargai Rp 5.000 per kilogram. Adapun kapasitas produksi masing-masing petani antara 5-10 kilogram per hari. Artinya, pendapatan harian mereka berkisar Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per kilogram.

Padahal, kebanyakan petani menderes pohon milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Bagi hasil yang diberikan, lima hari produksi untuk pemilik pohon dan lima hari produksi untuk penderes. Dengan perhitungan itu, otomatis kehidupan petani jauh dari sejahtera.

Halaman:

Editor: Puji Purwanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kepala Kantor Kemenag Grobogan Ditemukan Gantung Diri

Selasa, 27 September 2022 | 11:47 WIB

Ini Kronologi Hilangnya ASN Bapenda Kota Semarang

Minggu, 11 September 2022 | 07:44 WIB
X