Menempuh Jalan Sunyi Ekosufisme Untuk Menyelamatkan Bumi

- Selasa, 6 Desember 2022 | 15:33 WIB
KUSNO memberikan bibit tanaman kepada salah satu lokasi wisata di Desa Karangkemiri Kecamatan Karanglewas Banyumas beberapa waktu lalu.(SM Banyumas/dok)
KUSNO memberikan bibit tanaman kepada salah satu lokasi wisata di Desa Karangkemiri Kecamatan Karanglewas Banyumas beberapa waktu lalu.(SM Banyumas/dok)

SEJAK 2001, Kusno, warga Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas,
Jawa Tengah itu mulai menggeluti aktivitas pelestarian lingkungan. Pekerjaannya
di ibukota di bidang industri ditinggalkanya dan lebih memilih berkebun dan
berwiraswasta seadanya di kampung halamannya yang terletak di kaki Gunung
Slamet bagian selatan.

Melihat lingkungannya yang mulai rusak karena penebangan hutan dan sampah,
ia tergerak. Bersama dengan komunitas pecinta alam, pegiat lingkungan, ia
akhirnya memilih jalan sunyi untuk kesana kemari untuk menanam pohon
terutama di lahan kritis di sekitar rumahnya.

Aksi itu ia lakukan mandiri, iuran hingga berjualan apapun dan sebagian
disisihkan untuk membeli bibit pohon. Terkadang ada teman pemilik usaha bibit
memberinya donasi, sektor swasta dan pemerintah. Kini ia bergerak dengan
siapapun yang mau dan punya kepedulian terhadap alam.

Baca Juga: Spoiler Manga One Piece Chapter 1069: Duel Ulang Luffy vs Luccy versi Awakening

"Saya sering bergerak sendiri, menggunakan motor dan membawa bibit dan
menyerahkan bibit di lokasi lahan kritis, sekolah, perumahan hingga tempat
wisata yang sedang dirintis. Menanam pohon menjadi media, saya bersosialisasi
tentang pentingnya alam, pentingnya bersahabat dengan alam," kata pria lulusan
SMA 1 Purwokerto yang kini berusia 54 tahun yang sering menjadi narasumber
sosialisasi pelestarian alam di kelompok sekolah dari tingkat dusun hingga
nasional.

Moto Kusno adalah meski tak berdaya tapi tetap berupaya. Meskipun sering
berbagi bibit tanaman, namun ia juga mengajak siapapun untuk bersedekah
kepada lingkungan. Dengan uang berapapun, ia ajak teman dan berbagai pihak
untuk bisa membeli pohon dan menanamnya.

"Berawal dari Hati, untuk kebaikan hati, jangan menyakiti hati, agar semua
berbaik hati. Begitupun dengan kebaikan hati terhadap alam. Semua yang kita
lakukan kepada alam, akan kembali kepada kita. Jadi meskipun sepi, dengan
komunitas kecil, di tempat sepi tak terlihat orang, tak masalah," jelas kakek satu
cucu mengaku bingung ketika ditanya soal profesi, pekerjaan hingga
penghasilannya setiap hari.

Baca Juga: Renungan Harian Katolik Selasa 6 Desember 2022, Allah Menyelamatkan DombaNya

Dengan pendekatan pertemanan dan jejaring komunitas, Kusno bergerak
mengajak semua pihak untuk berbagi pengalaman, pengetahuan lingkungan dan
diakhiri dengan aksi nyata menanam, memungut sampah dan lainnya. Mulai dari
tokoh agama, mahasiswa hingga anak TK pun disambanginya dan diajaknya
untuk mengenal mengelola sampah, membuat biopori, hingga menanam dan
merawat pohon dan alam.

Halaman:

Editor: Susanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Rianto: Tari adalah Bahasa Tubuh

Jumat, 20 Januari 2023 | 16:21 WIB
X