Menyusuri Jejak Politik Etis dalam Rekaman Gedung Sekolah di Kota Purwokerto

- Sabtu, 26 November 2022 | 21:23 WIB
Peserta Jelajah 'Jejak Sejarah Sekolah #1', dalam rangkaian HUT komunitas BHHC, berpose di depan gedung SMAN 5 Purwokerto, Sabtu 26 November 2022. (SMBanyumas/dok BHHC )
Peserta Jelajah 'Jejak Sejarah Sekolah #1', dalam rangkaian HUT komunitas BHHC, berpose di depan gedung SMAN 5 Purwokerto, Sabtu 26 November 2022. (SMBanyumas/dok BHHC )

PURWOKERTO, suaramerdeka-banyumas.com - Di wilayah Kota Purwokerto, masih tersisa sejumlah bangunan peninggalan sejarah masa politik etis Hindia Belanda.

Bangunan-bangunan itu masih kokoh berdiri bahkan cukup terawat.

Salah satunya adalah gedung SMA Negeri 5 Purwokerto, yang berlokasi di Jalan Gereja nomor 20 Purwokerto. Sekitar tahun 1922, gedung ini dahulu difungsikan sebagai Kwekschool dan Normalschool.

"Kweekschool masa pendidikan 3 tahun dan Normalschool masa pendidikannya 5 tahun merupakan sekolah setingkat SMP. SMA Negeri 5 masih merawat bangunan dengan lumayan baik bangunan bersejarah ini, namun bagian utara yang masuk ke dalam lingkungan SMP Negeri 3 Purwokerto telah habis total menjadi bangunan baru, ini sangat disayangkan," terang founder komunitas pelestari sejarah Banjoemas History and Heritage Community (BHHC), Jatmiko Wicaksono pada program Jelajah 'Jejak Sejarah Sekolah #1', Sabtu 26 November 2022.

Baca Juga: Faiz Khoirul Fuadi Siswa MAN 2 Banyumas Buat Karya Modifikasi Sepeda Listrik

Sekolah ini, kata dia, didirikan oleh Belanda untuk mendidik calon guru bantu dan guru dari kalangan pribumi. Mereka juga kelak yang akan melahirkan para pengajar-pengajar Indonesia.

Bila dilihat sepintas, gedung SMA Negeri 5 Purwokerto identik dengan bangunan arsitektur Eropa abad ke 19.

Pilar-pilar bercat putih kokoh berdiri, bagian jendela juga berukuran cukup lebar. Lorong-lorong panjang yang menyatukan antar gedung juga menjadi ciri khas komplek sekolah tersebut.

Jatmiko menuturkan, sejarah pendidikan di Kota Purwokerto erat hubungannya dengan politik etis yang pernah diberlakukan pemerintah Hindia Belanda sebagai konsekuensi dari penerapan tanam paksa.

Halaman:

Editor: Nugroho Pandhu Sukmono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Rianto: Tari adalah Bahasa Tubuh

Jumat, 20 Januari 2023 | 16:21 WIB
X