Ahli Epidemiolog: Pemerintah Utak-atik Data Kasus, Covid-19 Bisa Berubah Jadi Silent Killer

- Sabtu, 31 Juli 2021 | 13:51 WIB
VAKSINASI KELILING: Seorang pedagang disuntik vaksin Covid-19 pada program vaksinasi keliling di lantai 2 Pasar Wage Purwokerto, baru-baru ini. Program ini merupakan upaya Pemkab Banyumas untuk menekan penularan virus Corona di wilayahnya. (SMBanyumas/Nugroho Pandhu Sukmono) (Nugroho Pandhu Sukmono)
VAKSINASI KELILING: Seorang pedagang disuntik vaksin Covid-19 pada program vaksinasi keliling di lantai 2 Pasar Wage Purwokerto, baru-baru ini. Program ini merupakan upaya Pemkab Banyumas untuk menekan penularan virus Corona di wilayahnya. (SMBanyumas/Nugroho Pandhu Sukmono) (Nugroho Pandhu Sukmono)

Pemerintah setempat hanya mengkalkulasikan angka positif berdasarkan hasil tes PCR (polymerase chain reaction).

Padahal, WHO sudah merekomendasikan penggunaan tes antigen untuk melacak kasus positif.

Baca Juga: Ini Cara Meningkatkan Saturasi Oksigen dengan Teknik Proning Versi Kemenkes RI

Selain itu, kasus probable juga ikut disertakan sebagai kasus kematian karena Covid-19.

Namun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tidak mengikuti pedoman WHO tersebut.

Data kematian harian di Indonesia yang dicatat Kemenkes hanyalah pasien dengan kasus konfirmasi positif Covid-19, tanpa menyertakan kasus probable.

"Misalnya ada kontak erat, hasil rapid antigen positif, langsung isoman. Tapi ada gejala (pemerintah) tidak akan dilaporkan. Kalau yang dilaporkan yang hanya pakai PCR. Kalau memenuhi kriteria suspect dan probable, rapid antigen positif sebetulnya sudah bisa masuk kasus positif. Logikanya kalau ikuti WHO pasti banyak kasus yang ditemukan di lapangan," jelas pengajar di Fakultas Kedokteran Unsoed ini.

Baca Juga: Satu Napi Lapas Nusakambangan Meninggal, Ratusan Lagi Positif Covid-19

Keanehan lainnya, kata dia, di Banyumas, kurva epidemi menurun 56 persen pada periode 5 hari terakhir di bulan Juli.

Ada indikasi orang yang positif hasil rapid antigen tidak dianggap sebagai kasus.

Halaman:

Editor: Nugroho Pandhu Sukmono

Tags

Terkini

Awas Hoaks Soal Vaksin Sinovac Belum Jalani Ujicoba

Sabtu, 25 Desember 2021 | 09:43 WIB

Awas! Generasi Muda Rentan Alami Gangguan Mental

Senin, 25 Oktober 2021 | 13:55 WIB

Ini Empat Hormon Bahagia dan Cara Meningkatkannya

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 19:06 WIB
X