Ini Isi Perbincangan Sastra dan Indonesia dari Ahmad Tohari dengan Pembaca Ronggeng Dukuh Paruk di Jerman

- Rabu, 3 Agustus 2022 | 13:47 WIB
NOVEL Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan yang dikarang Ahmad Tohari (SM Banyumas/Susanto)
NOVEL Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan yang dikarang Ahmad Tohari (SM Banyumas/Susanto)

Baca Juga: Putri Candrawathi Istri Irjen Pol Ferdy Sambo, Salah Satu Saksi Kunci Soal Dugaan Pelecehan Seksual

Kegelisahan itu dirasakannya ketika geger 65 ia masih berusia 17 tahun dan peristiwa itu terus menghantuinya. 

"Akhirnya saya tuliskan dan saya harus berhadapan dengan tentara. Beruntung ada orang yang berpengaruh menyelamatkan saya dan meyakinkan saya kalau saya ini Nahdlatul Ulama bukan Komunis," katanya. 

Ahmad Tohari menyebutkan warna kedaerahan dalam sastra terlihat jelas di sejumlah karya sastra klasik mulai dari Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Hamka, Robohnya Surau Kami karya Ali Akbar Navis, Pahlawan Minahasa karya MR Dajoh.

Kepengarangannyapun tak lepas dari warna daerah Banyumas dalam sebagian besar karyanya.

Baca Juga: RY, Terduga Terorisi Anggota Hubungan Internasional Jamaah Islamiah Ditangkap di Magetan

"Dengan peralatan yang sedemikian canggih sekarang ini, karya sastra bisa degan mudah menyapa dunia. Apa yang bisa dilaksanakan anda sekarang. Manfaatkan peluang itu dengan berkarya agar segera dinikmati orang banyak," tantangnya kepada para hadir.***

Halaman:

Editor: Susanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Rianto: Tari adalah Bahasa Tubuh

Jumat, 20 Januari 2023 | 16:21 WIB
X