Ini Isi Perbincangan Sastra dan Indonesia dari Ahmad Tohari dengan Pembaca Ronggeng Dukuh Paruk di Jerman

- Rabu, 3 Agustus 2022 | 13:47 WIB
NOVEL Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan yang dikarang Ahmad Tohari (SM Banyumas/Susanto)
NOVEL Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan yang dikarang Ahmad Tohari (SM Banyumas/Susanto)

 

PURWOKERTO, suaramerdeka-banyumas.com-Sastra dalam mengenalkan Indonesia senyatanya kepada dunia. Pasalnya melalui sastra, berbagai roh kedaerahan dan berbagai lokalitas lainnya dapat diperkenalkan kepada pembaca.

"Seorang Jerman berbincang dengan saya ketika ada pameran buku di Frankfurt. Awalnya dia mengira dengan singgah ke Jakarta, Yogyakarta dan Pulau Bali, ia sudah mengenal Indonesia.

Namun setelah ia membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) ia menyadari, pandangan itu belumnya terwakili," jelas sastrawan Ahmad Tohari saat membuka wacana saat Temu Sastra Majelis Sastra Asia Tenggara dengan tajuk Roh Kedaerahan dalam Pertumbuhan Sastra Indonesia di Auditorium Perpustakaan UIN Prof Dr KH Saifuddin Zuhri Purwokerto Kamis 28 Juli 2022.

Baca Juga: Ini Dia Link Twibbon Menyambut 100 Tahun atau Satu Abad Nahdlatul Ulama

Usai membaca RDP, seorang Jerman tersebut menyadari bahwa Indonesia ternyata jauh lebih rumit dan luas daripada yang ia kenal sebelumnya.

Artinya kata Tohari, sastra memperkenalkan Indonesia senyatanya kepada dunia.

"Dengan diterbitkan dalam lima bahasa asing (RDP, red), saya ceritakan Indonesia dengan segala kemakmuran sekaligus kebrengsekannya kepada pembaca," tandasnya.

Soal bagaimana ia mengarang RDP, Ahmad Tohari mengungkapkan kalau ia menulis RDP sebagai bentuk kepedulian, pembelaan kepada kemanusiaan yang terjadi di sekitarnya, di desanya sendiri. 

Ia melihat orang kecil di masa geger 65 harus mati dibunuh tanpa melalui pengadilan terlebih dulu. 

Halaman:

Editor: Susanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Geguritan 'Cianjur Nangis Nggaur' Karya Wanto Tirta

Senin, 28 November 2022 | 11:20 WIB
X