Zawawi Imron: Bila Tidak Didasari Cinta, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

- Minggu, 10 April 2022 | 07:35 WIB
BEDAH Buku menjadi rangkaian kegiatan peluncuran buku Senandung Cinta dari Pesantren hasil lomba cerpen nasional Pesma An Najah Purwokerto di Auditorium Prof KH Saifuddin Zuhri UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto pekan lalu. (SM Banyumas/Susanto)
BEDAH Buku menjadi rangkaian kegiatan peluncuran buku Senandung Cinta dari Pesantren hasil lomba cerpen nasional Pesma An Najah Purwokerto di Auditorium Prof KH Saifuddin Zuhri UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto pekan lalu. (SM Banyumas/Susanto)

PURWOKERTO, suaramerdeka-banyumas.com-Dulu di pesantren tabu berbicara soal cinta. Tetapi, bila tidak didasari cinta, apa yang bisa dilakukan. Bahkan mengaji kepada kiai-pun harus didasari dengan cinta. 

Demikianlah sastrawan KH D Zawawi Imron memberikan sambutan sebagaimana dibacakan sang cucu Ning Irfah Lihifdzi Ayatillah dalam peluncuran buku Senandung Cinta dari Pesantren yang merupakan kumpulan 30 nominasi lomba cerpen tingkat nasional yang diadakan Pesantren Mahasiswa An Najah di Auditorium Prof KH Saifuddin Zuhri UIN Prof KH Saifuddin Zuhri pekan lalu. 

Menurut Budayawan asal Madura ini, dunia pesantren selalu mempersepsi cinta dengan kreatif, melalui metode dan pendekatan yang khas.

Baca Juga: 2021, Nilai Ekspor Pinang Indonesia Capai Rp 5 Triliun

Kekhasan itu biasanya direlevansikan dengan pemahamaan keagamaan; cinta kepada Allah, Nabi, Kiai bahkan cinta kepada sesama santri. 

"Cintalah yang menjadikan hidup lebih berwarna, mengaji lebih semangat, dan shalawat lebih bergema. Bahkan Maulana Rumi berkata, cinta melebihi semua dogma agama.

Cinta hadir untuk memeluk keseluruhan ciptaan. Cinta adalah hakikat agama yang mempersatukan keseluruhan umat manusia di dalam cahaya ke-Ilahian," jelas Si Penyair Celurit Emas ini. 

Baca Juga: Khoerudin Terpilih Jadi Kades Antarwaktu Karangkemojing

Cinta yang Besar

Disebutkan Kiai Zawawi, dari kumpulan cerita pendek dalam buku yang diluncurkan tersebut, memuat berbagai pernik cinta dan ditulis dengan tenaga cinta yang besar. 

"Barangkali tidak semua penulis berlatar belakang santri. Akan tetapi, tulisan mereka cukup merepresentasikan kosep cinta yang secara umum berkelindan dalam pesantren," ungkapnya. 

Penyair kawakan ini mengatakan even rutin Pesantren Menulis ke-5 yang diinisiasi Pesma An Najah Purwokerto, santri baktikan dan para penulis di dalam buku ini merupakan upaya untuk menebarkan kisah cinta kepada orang lain. 

Baca Juga: Hasil Korea Open 2022 : Jojo Melaju ke Final

"Sehingga pesantren akan selalu menjadi simbol akhlak, ilmu dan cinta. Dan sasstraah yagn akan mengemasnya dengan keindahan," pungkasnya. 

Halaman:

Editor: Susanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Berikut ini Bunyi Tepuk Puasa atau Tepuk Saum

Rabu, 22 Maret 2023 | 18:59 WIB

Ini Alasan Produksi Film Butuh Manajemen yang Rapi

Senin, 20 Maret 2023 | 12:36 WIB

DKKB Lantik Pengurus Pakumas Korcam Kembaran

Senin, 20 Maret 2023 | 08:23 WIB
X