Ayo Simak dan Baca ! Buku Max Havelaar Karya Multatuli, Buku yang Membunuh Kolonialisme

- Minggu, 28 November 2021 | 09:35 WIB
Buku Max Havelaar dan Multatuli (SM Banyumas/Dok)
Buku Max Havelaar dan Multatuli (SM Banyumas/Dok)

'SEORANG politikus tak mengenal Multatuli, praktis tidak mengenal humanisme, humanita secara modern, dan politikus tidak mengenal Multatuli, bisa menjadi politikus yang kejam'

Demikianlah yang dikatakan Sastrawan Pramoedya Ananta Toer tentang buku Max Havelaar, karya Multatuli yang tak lain adalah nama pena dari Ernest François Eugène Douwes Dekker.

Multatuli, pejabat Belanda akhirnya dikenal menjadi satu dari tiga serangkai penggerak dan pahlawan pendidikan di masa kolonial bersama Ki Hajar Dewantara dan Cipto Mangunkusumo.

Melalui bukunya Max Havelaar tentang praktik perkebunan dan perdagangan kopi di Lebak Banten, Multatuli mengungkap berbagai praktik korup dan konspirasi antara pejabat Belanda bersama pejabat pribumi. Bagaimana pribumi dikeruk kekayaan alamnya bersama dengan penarikan pajak yang kejam untuk pemerintah kolonial.

Terselip juga dalam buku legend ini kisah cinta Saijah dan Adinda yang berakhir tragis dan kasih yang tak sampai. Kalau dibaca lengkap, buku ini tak lain seperti catatan harian pejabat Belanda yang menuliskan berbagai data lengkap soal kegiatan korupsi yang menggerogoti bangsa jajahan hingga pemerintah Belanda itu sendiri di negeri nusantara.

Tak ayal dari buku inilah, penulis dianggap sebagai 'penghianat bagi bangsanya karena membuka borok praktik negeri jajahan kepada bangsa koloninya. Yang tak kalah tragis dan ironis adalah bagaimana pejabat pribumi yang berkawan dengan pejabat kolonial juga tak punya rasa kemanusiaan bagi bangsanya sendiri.

Dalam buku Max Havelaar ini, pembaca akan diajak bagaimana di satu sisi kemegahan negara Belanda yang makmur dengan sokongan rampasan kekayaan bangsa jajahan dan kemiskinan, kelaparan hingga kebodohan bangsa jajahan. Bagaimana praktik konspirasi antara pejabat kolonial dan lokal yaitu oknum demang juga menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Tak ayal dari buku inilah, menuai pro kontra bagi kalangan warga Belanda sendiri di masa itu, dan akhirnya bisa menumbukan apa yang dinamakan Politik Etis, atau politik balas budi di mana Pemerintah Kolonial memberikan fasilitas pendidikan bagi kalangan pribumi untuk bisa sekolah. Ya, kebijakan yang akhirnya menjadi bumerang bagi Belanda dengan bangkitnya kaum terpelajar yang menantang pemerintah kolonial itu sendiri. Dari pendidikan inilah lahir para terpelajar-terpelajar pribumi yang akhirnya menginspirasi ikhtiar mengakhiri kolonialisme.

Kalau yang tak sempat membaca buku Multatuli yaitu Max Havelaar ini, bisa juga mencari film Max Havelaar yang sempat rilis di tahun 1970-an dan terbaru sekarang ini juga telah dirilis.

Halaman:

Editor: Susanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini Dia Kumpulan Link Twibbon Selamat Harlah NU 96

Minggu, 16 Januari 2022 | 06:33 WIB

Puisi Selamat Tahun Baru Kawan karya Gus Mus

Sabtu, 1 Januari 2022 | 19:24 WIB

Kisah Haji Amin, Sebuah Anekdot dari Madura

Sabtu, 1 Januari 2022 | 11:34 WIB
X