Pentas 'Metamorfosa Lengger': Membaca Dinamika Seni Lengger

- Minggu, 21 November 2021 | 17:55 WIB
LENGGER SINTREN: Penari menampilkan lengger sintren yang menjadi satu babak pada pentas Metamorfosa Lengger, di SMKN 3 Banyumas, Sabtu, 20 November 2021 malam. (SMBanyumas/Nugroho Pandhu Sukmono)
LENGGER SINTREN: Penari menampilkan lengger sintren yang menjadi satu babak pada pentas Metamorfosa Lengger, di SMKN 3 Banyumas, Sabtu, 20 November 2021 malam. (SMBanyumas/Nugroho Pandhu Sukmono)

BANYUMAS, suaramerdeka-banyumas.com - Kesenian lengger mengalami perubahan bentuk maupun ruang apresiasinya dari masa ke masa. 

Potret perubahan itu menjadi sajian pementasan "Metamorfosa Lengger" yang digelar oleh Yayasan Rumah Lengger, di SMKN 3 Banyumas, Sabtu malam, 20 November 2021 secara daring dan luring

Pagelaran dibuka dengan film yang menampilkan serombongan penari dan pemusik berjalan kaki di tengah lapang. Mereka hendak menuju desa tetangga yang letaknya cukup jauh.

Film tersebut mengantarkan pandangan tentang kehidupan lengger di masa lalu. Mbarangan, atau mengamen dari desa ke desa dijalani oleh lengger untuk mencari warga yang ingin menonton aksinya.

"Istilahnya Mbarangan. Lengger mbarang ini tampil dengan riasan dan pakaian pentas yang seadanya. Pengiringnya juga pakai pakaian kaos. Kalau sampai ke desa yang jauh ya bawa bekal, berangkatnya juga jalan kaki," tutur seniman kendang, Sukendar yang mengaku pernah ikut rombongan pengamen lengger ini.

Baca Juga: Verawaty Fajrin Meninggal Dunia, Sandiaga Uno : Selamat Jalan Juara Dunia

Film lalu beralih pada pementasan fragmen 'Lengger Mbarangan'. Kemudian berlanjut pada pentas seni lengger Sintren.

Pada perkembangan selanjutnya, lengger tak lagi dipentaskan di sudut-sudut kampung, melainkan menjadi pertunjukkan yang dapat dinikmati pada panggung-panggung seni.

Bahkan, bisa berkolaborasi dengan kesenian dari tanah Tiongkok, barongsai. Sekitar tahun 2008, lahir seni kreasi Calung, Lengger, Barongsai (Calengsai).

Hebatnya lagi, dalam kurun waktu 2008-2009 grup seni tersebut tampil lebih dari 20 kali di berbagai perhelatan dan daerah. Di bagian akhir, pagelaran kolaboratif itu ditutup dengan pertunjukkan Calengsai.

Halaman:

Editor: Nugroho Pandhu Sukmono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Rianto: Tari adalah Bahasa Tubuh

Jumat, 20 Januari 2023 | 16:21 WIB

Cerita Banyumasan: Sirun karo Bapane

Sabtu, 14 Januari 2023 | 07:34 WIB
X