Kuatkan Gotong Royong BUMDesa, Koperasi, dan Petani, Menuju Desa Berdikari Ekonomi

- Kamis, 30 Juni 2022 | 22:46 WIB
SORTIR GULA SEMUT ORGANIK: DUA Karyawan bidang produksi Koperasi Semedo Manise Sejahtera Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas saat melakukan penyortiran produk gula semut setelah pengayakan di ruang produksi gula semut oganik Rabu 29 Juni 2022 (SM Banyumas/Susanto)
SORTIR GULA SEMUT ORGANIK: DUA Karyawan bidang produksi Koperasi Semedo Manise Sejahtera Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas saat melakukan penyortiran produk gula semut setelah pengayakan di ruang produksi gula semut oganik Rabu 29 Juni 2022 (SM Banyumas/Susanto)

DI ANTARA rimbun ribuan pohon nyiur yang tumbuh di Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen Banyumas, kepulan asap putih terlihat menyembul dari rumah-rumah warga. Semakin dekat, aroma harum berasal dari air nira kelapa yang sedang dimasak tercium jelas dari dapur rumah para perajin gula kelapa.

Kini dari sekitar 1600 kepala keluarga yang tinggal di desa perbukitan Banyumas bagian barat ini, 600 kepala keluarga yang menjalani hidup sebagai perajin gula kelapa.

Salah satunya adalah keluarga Sudarto (57) yang tinggal berdekatan dengan Koperasi
Semedo Manise Sejahtera dan bergabung menjadi anggota Kelompok Tani Manggar Jaya
Desa Semedo.

Rabu siang 29 Juni 2022, nyala api tungku di dapur milik Sudarto
terlihat makin besar. Air nira di wajan besar di atas tungku itu bergolak-golak. Mendidih.

Baca Juga: Agar Wisatawan dari Luar Kota Bisa Menikmati Embun Es di Dieng, Begini Tipsnya

Setengah jam lagi, air nira itu akan mengental, diangkat oleh isterinya Karsini (56) untuk
dimasak menjadi gula semut. Komoditas ekspor yang telah menaikan derajat kehidupan
ratusan penderes gula kelapa di desa ini.

"Anak saya yang kedua sudah lulus sarjana setelah kuliah di Jogja. Sekarang mengajar di
pesantren di Jogja. Ya, sarjana dari gula kelapa.

Kami orang tua bekerja keras, sementara anak harus hidup bersahaja di sana sambil belajar. Alhamdulillah lulus," jelas Karsini, sambil membenamkan kayu bakar ke mulut tungku api itu.

Karsini berkisah sebagaimana kehidupan penderes lainnya memang cukup sulit. Apalagi
hasil dari penjualan gula kelapa cetak saat itu sungguh rendah. Harga gula cetak di tahun
2000- 2010-an kurang dari Rp 10 ribu perkilogram. Tak heran jika anak pertama cukup
disekolahkan hingga tingkat SMA saja.

Halaman:

Editor: Susanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Operasi Pasar Cabai Sasar UMKM Kuliner dan PKL

Selasa, 9 Agustus 2022 | 11:44 WIB

Askrindo Perkuat Kerja Sama dengan Mitra Bisnis

Minggu, 7 Agustus 2022 | 06:38 WIB
X