Ini Penyebab Indonesia Masih Tergantung Kedelai Impor

- Kamis, 3 Maret 2022 | 18:28 WIB
PANEN RAYA KEDELAI: Wakil Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono (tengah) bersama  pihak Desa Pasinggangan Kecamatan Banyumas, kelompok tani budidaya dan dinas pertanian menunjukkan  kedelai yang dipanen, Senin 20 September 2021 (SM Banyumas/Agus Wahyudi-)
PANEN RAYA KEDELAI: Wakil Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono (tengah) bersama  pihak Desa Pasinggangan Kecamatan Banyumas, kelompok tani budidaya dan dinas pertanian menunjukkan  kedelai yang dipanen, Senin 20 September 2021 (SM Banyumas/Agus Wahyudi-)
PURWOKERTO, suaramerdeka-banyumas.com-Produksi kedelai yang dihasilkan para petani di Indonesia saat ini, dinilai masih belum optimal.

Untuk memenuhi kebutuhan pasokan kedelai, selama ini Indonesia masih tergantung impor dari negara lain.  

Padahal belakangan harga kedelai impor melonjak.

 
Hal itu diungkapkan pemerhati pertanian yang juga dosen jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Ir Bambang Sumanto MSc, baru-baru ini.

Menurutnya, ada sejumlah faktor yang membuat produksi kedelai yang dihasilkan para petani belum optimal. Di antaranya pengaruh faktor iklim. 
 
Perlu diketahui lama penyinaran matahari akan berpengaruh terhadap produktivitas hasil tanaman kedelai.
 
Baca Juga: Diresmikan, Pasar Lengkong Diharapkan Jadi Percontohan Pasar Sehat

Di negara-negara penghasil kedelai impor, seperti Amerika, lama penyinaran matahari terhadap tanaman kedelai cukup panjang, bahkan bisa 14 jam dalam sehari.  

Sehingga produksi kedelai bisa lebih optimal, bahkan bisa mencapai 7 ton per hektare.

Kondisi tersebut berbeda dengan di Indonesia, di mana lama penyinaran matahari lebih pendek. 
 
 
Ini berdampak terhadap produksi tanaman kedelai.
 
 ''Di Indonesia saat ini rata-rata produksi kedelainya baru sekitar 2,5 ton/hektare,'' ujarnya.

Selain faktor iklim, lanjut dia, perilaku petani Indonesia yang belum menempatkan tanaman kedelai sebagai tanaman prioritas juga menjadi salah satu penyebab produktivitas tanaman kedelai masih rendah.
 
Baca Juga: Pembelian Minyak Goreng pada Operasi Pasar Perlu Diawasi

''Sebagian besar petani kita masih menempatkan tanaman kedelai pada urutan yang kesekian kali setelah padi, jagung, sayuran dan jenis tanaman yang lain. 
 
Akibatnya budidaya tanaman kedelai kita tidak intensif,'' terangnya, baru-baru ini.

Kemudian biaya untuk budidaya tanaman kedelai yang cukup tinggi, menurut dia, juga menjadi salah satu penyebab produksi kedelai di Indonesia tidak optimal.
 
 
  Apalagi bagi petani yang hanya mengandalkan lahan pertanian sewa.

''Biaya yang dikeluarkan petani per musim tanam itu
rata-rata sekitar Rp 7,5 juta dan kalau setahun sekitar Rp 15 juta.  Kalau hasilnya hanya sekitar 2,5 ton/hektare, maka tidak akan menguntungkan,'' ungkapnya.

Selama ini tanaman kedelai juga merupakan salah satu tanaman yang banyak diserang oleh organisme pengganggu.  
 
Baca Juga: Bus Rombongan Siswa Asal Kudus, Kecelakaan di Purbalingga, Seorang Meninggal

Kondisi tersebut mengakibatkan biaya yang harus dikeluarkan petani untuk mengendalikan organisme tersebut menjadi tinggi***

Editor: Susanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Petani Milenial Banyumas Genjot Pemasaran Online

Minggu, 29 Januari 2023 | 21:21 WIB

Pelaku UMKM Banyumas Didorong Masuk Anggota Asosiasi

Jumat, 20 Januari 2023 | 16:14 WIB
X