Tempe dan Tahu Sulit Dicari, Dinperindag Banyumas Pastikan Stok Kedelai Tetap Aman

- Senin, 21 Februari 2022 | 16:10 WIB
PEMBUATAN TAHU: Teguh Setyanto menyelesaikan proses pembuatan tahu  di sentra industri tahu Kaliputih, Purwokerto, Senin (21/12). Pelaku UMKM mengeluhkan kenaikan harga kedelai yang kini mencapai Rp 12.000 per kilogram. (SMBanyumas/Dian Aprilianingrum)
PEMBUATAN TAHU: Teguh Setyanto menyelesaikan proses pembuatan tahu di sentra industri tahu Kaliputih, Purwokerto, Senin (21/12). Pelaku UMKM mengeluhkan kenaikan harga kedelai yang kini mencapai Rp 12.000 per kilogram. (SMBanyumas/Dian Aprilianingrum)

PURWOKERTO, suaramerdeka-banyumas.com - Meski tempe dan tahu mulai sulit dicari di pasar tradisional, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Banyumas memastikan stok kedelai tetap aman.

Sub Koordinator Seksi Informasi dan Promosi Dagang Dinperindag Banyumas, Didik Haridik Nasaro Godiarsi mengatakan, kenaikan harga disebabkan karena ketergantungan bahan baku tempe dengan kedelai impor.

Di tingkat lokal, pihaknya tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi persoalan tersebut.

"Untuk menekan harus dipikirkan secara nasional. Bisa dengan insentif untuk importir kedelai, atau subsidi. Banyumas, pernah memberikan subsidi Rp 1.000 untuk perajin tempe. Untuk saat ini, hal itu tidak mungkin (dilakukan) karena tidak ada anggaran," jelasnya.

Baca Juga: Persediaan Kedelai di Cilacap, Cukup Sampai Maret

Didik memastikan pasokan kedelai di Banyumas tetap aman. Sebagai contoh, di Toko Intan Mas Purwokerto masih tersedia stok sekitar 160 ton.

"Itu baru satu toko ya. Belum distributor lainnya," tandasnya. 

Berdasarkan pantauan pada dua pasar tradisional, yakni Pasar Wage dan Pasar Manis Purwokerto, baik tempe maupun tahu sangat sulit ditemui.

Bahkan hanya satu orang pedagang yang berjualan tempe di Pasar Manis.

Halaman:

Editor: Nugroho Pandhu Sukmono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Stok Beras Mencukupi hingga Akhir Tahun

Jumat, 25 November 2022 | 06:15 WIB
X