'Hampir Mati' Karena Pandemi, Ratu Cimol Banyumas Kini Bangkit Lagi

- Rabu, 5 Januari 2022 | 23:15 WIB
RESIKA Chaesaria, Ratu Cimol Banyumas.(SM Banyumas/Dok pribadi Resika)
RESIKA Chaesaria, Ratu Cimol Banyumas.(SM Banyumas/Dok pribadi Resika)


HAMPIR mati karena pandemi. Itulah pengakuan dari dari Ratu Cimol Banyumas, Resika Chaesaria saat berkisah efek pandemi terhadap usaha waralaba Cimol dengan brand Made Ariska. Pandemi memukul usaha waralaba gratis yang dipercayakannya kepada 600 mitra usaha dari keluarga pra sejahtera di eks wilayah Karesidenan Banyumas

"Sekolah, tempat wisata dan pasar tontonan atau kerumunan adalah 'nyawa' kami saat itu. Dan pandemi membuat mereka menjadi musuh," kata perempuan yang memulai bisnis cimol dengan menenteng dua plastik keresek cimol dan ditawarkan kepada teman SMA dan dititipkan ke kantin SMA 1 Ajibarang, Kabupaten Banyumas ini dengan hasil Rp 20 ribu- Rp 30 ribu.

Sejak awal pandemi, Chika bersama para mitranya yang biasanya berjualan dengan gerobak dan mengandalkan sekolah akhirnya terhenti. Pandemi sungguh mengubah pola pikir dan pola usaha dari konvensional beralih sebagian dijual secara online. Celakanya, cara itu tak seluruhnya bisa diberlakukan dan dapat dilaksanakan untuk para mitranya.

Akibat menurunya omset penjualan saat pandemi inilah, produksi cimol yang sebelumnya, tidak kurang dari 2 kwintal per hari, mengalami penurunan drastis hanya menjadi 60 kilogram saja.

"Bayangkan dari produksi 60 kilogram cimol ini saya harus membayar 40 karyawan. Sungguh omset tersebut tak menutup sama sekali. Untuk memberhentikan karyawan ya tidak tega, karena mereka sudah bertahun-tahun berjuang bersama kita," kata sapaan akrab perempuan peraih banyak penghargaan tingkat nasional yang wira wiri masuk komunitas, kampus, TV dan media massa jadi narasumber enterpreunership ini.

Baca Juga: Fly Over Terealisasi, Kemacetan Teratasi, Laju Perekonomian Terakselerasi

Dengan kondisi minus inilah, ia berpikir keras bagaimana menjaga karyawannya. Tentulah dengan omset yang kian menurun tak bisa diandalkan. Di tengah keprihatinannya, ia menemukan peluang di tengah tingginya harga masker di awal pandemi. Di saat ketersediaan masker minim, harga masker medis bisa mencapai ratusan ribu dan masker kain sekitar Rp 20 ribu- Rp 25 ribu perbuah.

"Saya alihkan usaha produksi hijab yang belum berjalan untuk memproduksi masker. Karyawan yang tadinya bekerja membuat cimol, mereka akhirnya mengguntingi kain. Ketika yang lain jual masker harga Rp 15 ribu, saya jual Rp 3 ribu dan saya ambil 10 prosen keuntungan. Dan Alhamdulillah satu bulan saya bisa jual 100 ribu picis masker dan April bisa bayar gaji dan THR karyawan dan mitra," ungkap peraih penghargaan She Can Awards, Pemuda Pelopor, Satu Indonesia Awards dan lainnya.

Namun kondisi itu tak berlangsung lama, karena harga masker kemudian turun. Bisnis masker itu ia nikmati sekitar tiga bulanan saja. Setelah itu terhenti dan terpaksa ia harus kembali berpikir untuk bertahan. Akhirnya kembali ke cimol lagi. Tapi bukan cimol biasa. 

"Akhirnya saya bikin frozen food yaitu cimol dan aneka makanan lainnya dengan bok dan tempelan stiker sederhana. Namun untuk kondisi makanan ini sudah steril sudah divakum dan sebagainya. Saya jual secara semi online dan ternyata selama jualan satu bulan, saya mendapatkan omset tertinggi dari 15 tahun berjualan," katanya yang saat itu memanfaatkan media sosial What's App, Facebook dan instagram. 

Halaman:

Editor: Susanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Petani Milenial Banyumas Genjot Pemasaran Online

Minggu, 29 Januari 2023 | 21:21 WIB

Pelaku UMKM Banyumas Didorong Masuk Anggota Asosiasi

Jumat, 20 Januari 2023 | 16:14 WIB
X