Tahukah Kamu: Sidekah Ketupat, Tradisi Bakti Warga Dayeuhluhur Sejak Perjalanan Ziarah Raja-Raja Pasundan

- Sabtu, 24 September 2022 | 06:36 WIB
SIDEKAH KUPAT: Tradisi wujud bakti warga Dayeuhluhur Kabupaten Cilacap sejak jaman perjalanan ziarah Raja-raja Pasundan yang akan berziarah ke  Mataram khususnya di masa Hindu berjaya.(SM Banyumas/Dok Pemprov Jateng)
SIDEKAH KUPAT: Tradisi wujud bakti warga Dayeuhluhur Kabupaten Cilacap sejak jaman perjalanan ziarah Raja-raja Pasundan yang akan berziarah ke Mataram khususnya di masa Hindu berjaya.(SM Banyumas/Dok Pemprov Jateng)
CILACAP, suaramerdeka-banyumas.com-  Setiap hari Rebu Wekasan atau Hari Rabu terakhir di Bulan Sapat penanggalan Jawa, warga Dayeuhluhur  Kabupaten Cilacap mengadakan tradisi bernama Sidekah Kupat.
 
Dalam tradisi itu, warga memasang banyak ketupat janur yang sudah matang digantung-gantungkan di atas gawang-gawang bambu di sepanjang jalan desa.
 
Ya, setiap Rabu Wekasan di Bulan Sapar, pada pukul 06.00 warga berkumpul di batas desa.
 
Mereka membawa ketupat yang disajikan di sebuah tiang melintang.
 
Nantinya, siapa pun yang melewati jalanan tersebut bebas mengambil ketupat.
 
 
Sebelum ritual, sesepuh desa merapal riwayat tentang tetirah para raja pasundan, menggunakan bahasa Sunda lengkap, beserta sesajen dan bebakaran dupa.
 
“Yang warga kampung lain bisa mengambil ketupat itu.Sedangkan, warga desa setempat membawa bekal ketupat sendiri, dan dimakan bersama-sama di perbatasan desa,” ungkapnya.
 
Ya tradisi ini merupakan tradisi di mana menjadi wujud bakti warga Dayeuhluhur dalam menghormati para raja-raja Pasundan yang di masa lampau melintas di wilayah Dayeuhluhur untuk melakukan perjalanan ziarah ke pusat-pusat agama di masa Mataram Kuno hingga Mataram Islam. 
 
“Dulunya di sini, dipercaya sebagai alur puraga atau jalur (darat) kuna, sebelum adanya Jalan Daendels.
 
Pada waktu zaman Mataram Kuna banyak raja Pasundan yang berziarah ke Candi Dieng atau Prambanan lewat sini.
 
Begitu pula saat Mataram Islam, banyak yang ziarah. Kalau lewat utara atau selatan kan banyak rawa, waktu itu,” ujar Ketua Lembaga Adat Desa Hanum Ceceng Rusmana sebagaimana dikutip dari laman Pemprov Jateng. 
 
 
 
Bahkan dari menurut penuturan warga Desa Datar, Hanum dan Bingkeng Kecamatan Dayeuhluhur, ritual tersebut telah berumur 494 tahun.
 
Ceceng mengungkapkan Mataram (Jawa Tengah) merupakan tempat berziarah bagi raja-raja Pasundan. Mengingat, adanya bangunan rohani, seperti candi, atau berkembangnya syiar Islam.
 
Saat para raja berziarah membawa rombongan prajurit hingga para petinggi kerajaan yang jumlahnya cukup banyak.
 
 
Nah, sebagai rasa bakti para penduduk yang wilayahnya dilewati rute ziarah raja-raja Pasundan, mereka pun membuat ketupat.
 
Ketupat itu kemudian disajikan dengan cara digantung pada sebuah tongkat melintang di perbatasan-perbatasan desa.
 
“Warga menyediakan bekal bagi para iring-iringan raja. Selain itu, zaman dahulu, pada bulan Sapar, warga juga membersihkan jalan desa sebagai persiapan iring-iringan  raja yang melakukan perjalanan. Sapar kan artinya perjalanan,” tuturnya.***

Editor: Susanto

Sumber: jatengprov

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X