Akademisi Unsoed: Pancasila Sering Jadi Alat Justifikasi dan Alat 'Gebuk'

- Jumat, 10 Juni 2022 | 18:08 WIB
SARASEHAN HARLAH PANCASILA: Sarasehan Harlah Pancasila menghadirkan tiga pemantik gagasan, Dr Luthfi Mkhasin, Dr Bariod Hardiyanto dan Bangkit Sassongko, dengan pemandu diskusi Jarot C Setyoko, di Pendapa rumah mantan Ketua DPRD Banyumas Suherman, Rabu malam, 9 Juni 2022.(SM Banyumas/Agus Wahyudi)
SARASEHAN HARLAH PANCASILA: Sarasehan Harlah Pancasila menghadirkan tiga pemantik gagasan, Dr Luthfi Mkhasin, Dr Bariod Hardiyanto dan Bangkit Sassongko, dengan pemandu diskusi Jarot C Setyoko, di Pendapa rumah mantan Ketua DPRD Banyumas Suherman, Rabu malam, 9 Juni 2022.(SM Banyumas/Agus Wahyudi)

PURWOKERTO, suaramerdeka-banyumas.com-Akademisi Universitas Jenderal Seodirman (Unsoed) Purwokerto melontarkan pandangan, Pancasila sampai saat ini sering kali menjadi alat justifikasi dan alat 'gebuk' untuik menjatuhkan pihak-pihak tertentu.

Selain itu, Pancasila sebagai sebuah ideologi atau bukan, sampai saat ini masih menjadi pertayaan besar, khususnya di kalangan kampus (akademisi).

Pandangan tersebut disampaikan Dr Luthfi Makhasin, dosen politik dari Unsoed, saat menjadi salah satu pelontar gagasan dalam acara Sarasehan Pancasila">Hari Lahir Pancasila, di Pendapa rumah mantan ketua DPRD Banyumas Suherman, Rabu malam, 8 Juni 2022.

Baca Juga: Harga Cabai Capai Rp 100 Ribu

"Selama berpuluh-puluh tahun, diskursus soal Pancasila itu banyak mengalami distorsi, di antaranya saat zaman Orde Baru.

Bahkan sejarah politik kita, Pancasila sering kali sebagai alat 'gebuk' atau justifikasi. Misalnya slogan Pancasila harga mati.

Di satu sisi, ini untuk menunjukkan komitmen yang tidak tergoyahkan. Tapi disi lain, ini membawa pesan nmenafikan ruang-ruang untuk bernegoisasi atau tafsir yang selalu terbuka," kata Wakil Dekan I FISIP Unsoed ini.

Baca Juga: Jadwal Wakil Indonesia di Perempat Final Daihatsu Indonesia Masters 2022 Hari Ini

Namun dalam kontek tertentu, nilai dia, Pancasila sebagai nilai-nilai luhur merupakan gaeding principal yang final.

Dari awal Pancasila sebenarnya tidak didesain sebagai ideologi yang tertutup atau Pancasila itu merupakan tafsir yang terbuka.

Sehingga, nilai dia, ini membuka untuk ditafsirkan ulang untuk dinegoisasikan dengan kontek masyarakat Indonesia yang terus berubah, yang pural dan memiliki pemaknaan yang berbeda-beda.

Baca Juga: Hasil Daihatsu Indonesia Master 2022 : Empat Ganda Putra Indonesia Tumbang di Babak 16 Besar

"Problem kita hari ini, ngomong soal Pancasila memang semua prinsip yang terkandung di dalamnya menghadapi tantangan kekinian.

Ngomong sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, kita ngomong soal ancaman intoleransi, radikalisme. Ini problem kongkrit yang dari dulu selalu ada sampai sekarang." nilai dia.

Halaman:

Editor: Susanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Paningkaban Akan Gelar Gropyokan Hama Celeng

Selasa, 14 Maret 2023 | 07:51 WIB
X