Terjadi Kerusakan Sana-Sini, Kualitas Tiga Bangunan Proyek PEN di Purwokerto Diragukan

- Sabtu, 14 Mei 2022 | 12:15 WIB
IKON KOTA PURWOKERTO: Jembatan melengkung di muka Jl Ir Soekarno Purwokerto yang belum lam ini diresmikan Bupati Achmad Husein kini menjadiikon baru Kota Purwokerto, selain menara pandang teratai yang beada di dalam kawasan tersebut.(SM Banyumas/Dian Aprilianingrum)
IKON KOTA PURWOKERTO: Jembatan melengkung di muka Jl Ir Soekarno Purwokerto yang belum lam ini diresmikan Bupati Achmad Husein kini menjadiikon baru Kota Purwokerto, selain menara pandang teratai yang beada di dalam kawasan tersebut.(SM Banyumas/Dian Aprilianingrum)
 
 
PURWOKERTO, suaramerdeka-banyumas.com-Sejumlah bangunan infrastruktur yang dianai dari pinjaman program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di Kabupaten Banyumas, yang difokuskan untuk penggembangan pariwisata mengalamai kerusakan di sana-sni. 
 
Padahal bangunan tersebut baru beberapa waktu lalu resmi difungsikan dan masih dalam tahap pemeliharaan.
 
Hasil pantauan dan penelusuran Lembaga Pusat Informasi Jaringan Rakyat (Pijar) Purwokerto, menemukan sedikitnya ada tiga lokasi bangunan yang mengalami kerusakan, bahkan ada yang operasional objek wisatanya ditutup sementara karena dinilai membahayakan pengunjung.
 
 
Ketua Umum Lembaga Pijar Purwokerto, Suherman mengungkapkan, temuannya ada tiga lokasi fasilitas umum yang difungsikan sebagai lokasi objek wisata yang ddanai dari PEN mengalami kerusakan setelah bangunan selesai diserahkan ke Pemkab dari pelaksana pekerjaan.
 
"Yakni Menara Pandang Teratai di kawasan Jl Ir Sokarno, Jembatan Melingkar di muka pintu masuk Jl Ir Soekarno dan pendapa kecil dan kios UMKM di kawasan wisata Mas Kemambang (Bale Kemambang). Semuanya destinasi tersebut berada di tengah Kota Purwokerto," katanya.
 
Suherman mencontohkan kejadian pendapa kecil di tengah kawasan Bale Kemambang ambruk saat liburan lebaran kemarin, padahal ini bangunan baru. Video bangunan ambruk sempat viral.
 
 
"Di lokasi itu, kios-kios UMKM yang disewakan juga pada bocor semua saat hujan dan dikeluhkan penyewa. Anehnya, saat pendapa ambruk, esok harinya bangunannya sudah bersih," kata Suherman, mantan Ketua DPRD Banyumas, dalam keterangan persnya,  Jumat petang, 13 Mei 2022.
 
Dia melanjutkan, untuk Menara Pandang Teratai setinggi 114 meter, beberapa hari lalu listrik untuk pengatur lift naik-turun mati saat tarif wisata mulai dikenakan ke pengunjung.
 
"Ini sempat menimbulkan kepanikan pengunjung yang terjebak di dalamnya. Anehnya objek wisata setinggi itu tidak dilengkapi dengan genzetnya. Ini artinya, tingkat keamanan tidak disiapkan," ujarnya.
 
 
Suherman juga mengungkapkan, hasil pantauan, ikon jembatan Soekarno, asesorisnya ada yang ambruk atau jatuh.
 
Padahal umur jembatan itu belum ada setahun. Belum lagi pilar besi di bagian tengah juga terlihat melengkung.
 
Seharusnya posisinya lurus karena sebagai pengikat asesoris lingkaran-lingkaran jembatan.
 
 
Atas kondisi itu, ia memperkirakan umur teknis jembatan itu tidak sesuai dengan perencanaan awal.
 
"Anehnya begitu sorenya ambruk, esoknya kok langsung bersih, baik asesoris jembatan maupun pendapa di Bale Kemambang. Sejauh ini belum ada respon dari pihak eksekutif, yudikatif. Bahkan legislatif juga tidak ada yang turun mengecek. Mungkin mereka (wakil rakyat-red) pada sibuk sekarang," nilainya.
 
 
Terjadinya kerusakan di sana-sini pada fasilitas publik yang baru dibangun, lanjut mantan Ketua DPC PDI-P Banyumas ini, diduga karena konsultan perencanaan, konsultan pengawas dan pengawas internal dari Pemkab, tidak berjalan sebagaimana mestinya.
 
"Fungsi kontrolnya tidak berjalan dengan baik, termasuk dari temen-temen DPRD barangkali sibuk, sehingga tidak ada kontrol sama sekali," katanya.
 
Khusus bangunan menara, nilai dia, adalah bangunan spesifik, karena konsultan bangunan gedung, rumah sakit maupun hotel belum tentu bisa menjadi konsultan menara.
 
Sehingga profesionalitas konsultan menara juga layak dipertayakan.
 
 
"Bangunan menara ini tegakan tunggal lo, pasti tingkat kesulitannya tinggi. Kalau bangunan gedung pasti ada ketersambungan antara konstruksinya. Itu saja bisa roboh, apalagi ini bangunan spesial (menara)," tanyanya.
 
Direktur Eksekutif Lembaga Pijar Purwokerto,  Yoga Sugama mengatakan, karena bangunan tersebut merupakan fasilitas umum dan dibiayai dari uang negara (pinajamn PEN) yang harus dikembalikan, maka, jika terjadi kerusakan bangunan yang tidak sesuai dengan perencanaan, maka bisa dinilai melanggar UU No 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi.
 
"Rusaknya sejumlah bangunan, termasuk ada yang ambruk ini mengindikasikan kualitas bangunannya jelek dan cara mengerjakannya tidak profesional," kata mantan anggota DPRD Banyumas ini.
 
 
Sebagaimana diberitakan,  menara pandang, Jl Ir Soekarno dan ikon jembatan melengkung baru diresmikan tanggal 27 April lalu oleh Bupati  Achmad Husein.
 
Begitu pula wahana wisata pengembangan Taman Mas Kemambang.
 
Untuk Menara Pandang Teratai didanai PEN sekitar Rp 65 miliar.  Pengembangan Taman Mas Kemambang juga memakai dana PEN.
 
 
Total pinjaman dana program PEN dari Kabupaten Banyumas sebesar Rp 191 miliar dipakai Rp 185,3 miliar, dengan skema pengembalian lima tahun, dipotongkan dari penerimaan DAU tiap tahun.
 
Proyek yang didanai PEN mencakup sembilan titik, termasuk di Baturraden. Sedangkan proyek jalan baru tembusan Jl Gerilya-Soedirman dan jembatan didanai dari APBD dan APBN secara bertahap.***

Editor: Susanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X